Sabtu, 16 November 2013

Mungkin aku membutuhkanmu

  "......... karena mungkin aku yang membutuhkan kamu.."
    Stella dan Melody bertemu di salah satu Universitas terkenal di Indonesia. Disanalah mereka kenal dan berteman untuk pertama kalinya. Melody adalah anak yang baik dan ramah, karena itu Stella sangat senang bisa berteman dengannya. Sedangkan Stella anak yang selalu ceria dan rendah hati, itu yang membuat Melody bisa berteman dekat dengannya. Seminggu berteman, kini mereka bersahabat. Kemanapun bersama, bermain, shopping, menonton bioskop, dan sebagainya. Persahabatan mereka sangat erat.

    "Stell, ntar habis pulang kampus kita ke mall yuk? Mau nggak?"
    "Ciee, yang uangnya banyak. Traktir makan ya? Aku pasti mau kalau ditraktir.."
    "Hhaha, siap deh. Ntar kita makan siang disana.."
    "Oke deh.."
    Mereka berjanjian untuk pergi ke mall sepulang kuliah. Entah apa yang dicari Melody, Stella masih belum mengetahuinya.
    Akhirnya mereka berdua pun pulang dan langsung pergi ke mall. Sesampainya di mall..
    "Eh, gaun ini bagus nggak?" tanya Melody.
    "Bagus kok. Tapi kalau buat kamu ya kegedean lah.." jawab Stella.
    "Ini bukan buat aku kok.." kata Melody tersenyum.
    "Lah? Terus buat siapa?"
    "Buat Mama aku. Dia ulang tahun hari ini.."
    "Ohh, Mama kamu ulang tahun hari ini? Wah, selamat yaa. Nanti aku boleh dateng juga ke acaranya?" pinta Stella.
    "Jelas boleh dong, kamu kan sahabat aku.." kata Melody.
    Gaun berwarna biru dengan motif berkilauan dipilih oleh Melody sebagai hadiah ulang tahun untuk Mama tercintanya. Ia berharap semoga Mamanya menyukai hadiah tersebut.

    "Kita makan dulu yuk? Perutku nagih nih.." ajak Melody.
    "Boleh kok. Ajakan itu yang aku tungguin dari tadi. Hhaha.."
    "Yee, dasar. Yuk, ke pizza sana aja.,"
    Mereka pun makan pizza bersama. Sambil makan, mereka mengobrol tentang laki-laki.
    "Mel, ngomong-ngomong kamu punya cowok belum sih?"
    Uhuk. Melody tersendat. Dan Stella tertawa.
    "Kenapa tanya kayak gitu? Tiba-tiba banget.." disela dengan minum.
    "Hahha.. Nggak papa kok Mel, tanya aja.."
    "Hih, dasar kepo kamu itu. Hhaha.."
    "Yeee, aku kan cuman pengin tahu. Sampai segitu kagetnya. Hahhaha.."
    "Aku nggak punya cowok kok. Aku lagi seneng sendiri.." jelas Melody.
    "Hmm. Kenapa? Nggak ada yang mau?"
    "Sialan. Banyak cinta datang, ku menolak. Hhaha.."
    "Emangnya BCL Mel? Hhaha.."
    "Tahu yaa? Hhaha. Lah kamu sendiri gimana? Apa kamu punya cowok?" tanya Melody.
    "Enggak punya sih. Enakan menjomblo kayak gini, bebas. Lagian aku udah punya sahabat deket, jadi untuk sementara ini enggak dulu deh.." terang Stella.
    "Ohh. Siapa sahabat deketmu?"
    "Yang tadi kaget parah gara-gara di kepoin punya cowok atau enggak. Hhaha.."
    Mereka berdua pun tertawa bersama. Canda dan obrolan mereka sangat hangat. Sampai mereka tidak sadar kalau pengunjung lainnya melihat tingkah mereka berdua.

    "Udah kenyang kan? Yuk, pulang.." ajak Melody.
    "Oke.."
    Mereka berdua pulang naik taxi. Stella pulang ke rumahnya, dan Melody pulang juga ke rumahnya untuk menyiapkan pesta ulang tahun Mamanya.
    Satu jam, dua jam, dan sampai empat jam telah berlalu. Pesta yang dinantikan Melody telah tiba. Ia mengirim message lewat BBM ke Stella.
    Stell, sekarang ke rumah ku ya? Pestanya mau dimulai nih. Oke? Thanks :)
    Hp Stella berbunyi. Ia melihat pesan yang masuk di BBM nya. Ia lalu bersiap dan berangkat ke rumah Melody.
    "Mel.. Melody.." panggil Stella dari luar pagar.
    "Iyaa, bentar." ucap Melody.
    "Udah dimulai?"
    "Belum. Setengah jam lagi. Kamu bisa bantu-bantu dulu."
    "Oke deh.."
    Mereka berdua menyiapkan pesta itu bersama Papa Melody, keluarga dan pembatu yang ada disana. Setelah selesai, mereka bersiap menunggu kehadiran Mama.

    "Assalamu alaikum.." salam Mama Melody dari depan pintu.
    "Waalaikum salam." jawab Melody dari dalam.
    Mamanya menunggu. Tapi kenapa tidak ada yang membukakan pintu, lantas ia membuka pintu itu sendiri. Ketika pintu dibuka..
    "Selamat ulang tahun Ma..." ucapan dari Melody di iringi kertas warna-warni yang di hamburkan dari lantai atas.
    Suara music klasik favorit Mama, kue besar bertuliskan "Happy Birthday Mama", dan pita berwarna serta balon menghiasi ruang keluarga itu.
    Melody langsung memeluk Mama tercintanya.
    "Ma, selamat ulang tahun. Kita sayang Mama." kata Melody terharu.
    Semua yang ada disana juga ikut senang, termasuk Stella yang sempat meneteskan air mata melihat kedekatan Melody dengan Mamanya.
    "Ma, make a wish ya." kata Papa.
    Mama lalu membuat sebuah keinginan dan doa. Tidak ada yang tahu apa yang di batin olehnya. Yang jelas, mereka berharap semua yang terbaik untuk Mama dan keluarga ini.
    Melody lalu memberikan hadiah yang tadi dibeli olehnya. Mamanya terkejut dan sangat menyukai gaun yang diberikan oleh anak kesayangannya itu. Ia tidak menyangka kalau Melody sangat mengetahui  seleranya.
    "Gaun ini nggak cuman Melody yang pilihin loh Ma. Ini juga saran dari Stella tadi.."
    "Oh, nak Stella juga nemenin Melody beli gaun ini ya? Terima kasih ya nak.."
    "Iyaa tante. Sama-sama." ucap Stella tersenyum.
    Acara itu berlangsung dengan penuh kebersamaan. Stella yang bukan dari keluarga itu pun di sambut dan di perlakukan dengan baik oleh mereka semua. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Stella pun izin pulang. Ia pulang di jemput oleh supir pribadinya.
    "Aku pulang dulu ya Mel, tante, om, dan semuanya. Sudah malam, nanti takut dicariin Mama dan Papa dirumah.Terima kasih atas kebaikan kalian malam ini. Stella pamit pulang yaa.."
    "Iya nak, hati-hati di jalan yaa." kata Mama Melody.
    "Kamu pulang sama siapa Stell? tanya Papa Melody.
    "Aku di jemput supir kok Om. Udah nungguin di luar.."
    "Hati-hati ya Stell. Thanks ya udah mau rayain ultah Mamaku."
    "Iya Mel. Sama-sama. Bye.."
    Stella pulang dengan perasaan sangat gembira. Namun mobil yang di naikinya tidak sengaja tertabrak oleh mobil lain yang ada di belakang. Dan sebuah kecelakaan terjadi tidak jauh dari rumah Melody. Melody yang sedang menyingkirkan gelas ke dapur, tiba-tiba saja gelasnya terjatuh. Dan Melody mendadak berprasaan buruk. Entah apa itu, ia belum tahu.
    Keramaian terjadi di lokasi kecelakaan. Tragedinya, mobil dibelakang ternyata di kendarai oleh seorang pemuda yang sedang mabuk. Maka konsentrasinya tidak bisa berjalan dengan benar. Stella yang kepalanya terbentur pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh supirnya. Supirnya yang juga mengalami luka ringan, secepat mungkin menolong anak majikannya itu.
    Supir pribadi Stella lalu menelpon majikannya. Mama dan Papa Stella pun langsung bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan anaknya.
    "Benturan yang terjadi pada kepala Stella untungnya tidak terlalu keras, Stella akan bisa sehat seperti semula dalam waktu tiga atau empat hari lagi.." ucap Dokter.
    "Syukurlah, anak saya tidak apa-apa. Apa kami boleh masuk melihatnya dok?" tanya Mama Stella.
    "Silahkan. Itu sangat diperbolehkan." kata Dokter.
    "Stella, bagaimana keadaan kamu nak? Mama dan Papa khawatir.."
    "Stella nggak papa kok Ma, Pa. Maaf ya udah bikin kalian khawatir."
    "Udah, jangan banyak bicara dulu nak. Kamu istirahat saja dulu ya.." pinta Papa.
    Mereka berdua meninggalkan ruang itu dan keluar menemui supir pribadi Stella yang juga mengalami luka di kepalanya.
    "Tuan, Nyonya, maafkan saya. Saya tidak bisa menjaga Stella dengan baik. Maafkan saya.." kata Supir itu sedih.
    "Udah, tidak apa-apa Pak. Bapak sudah lama bekerja untuk kami, kami juga sudah tahu kejadian yang sebenarnya. Ini bukan salah bapak.." kata Papa.
    "Terima kasih Tuan, Nyonya.."
    (*)
    Satu hari Stella tidak hadir ke kampus, Melody merindukannya. Hari kedua Stella masih tidak hadir, Melody semakin khawatir dan merindukannya. Ia memutuskan untuk ke rumah Stella dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
    "Apa tante? Jadi Stella sekarang di rumah sakit?" kata Melody kaget.
    "Iya nak. Sudah dua hari yang lalu setelah pesta Mamanya nak Melody kemarin."
    Berarti saat gelas yang tiba-tiba pecah itu, itu pertanda buruk tentang Stella. Kenapa aku sampai tidak bisa menyadari itu? Bodohnya aku. Batin Melody.
    "Kalau begitu Stella ada di rumah sakit apa tante? Aku mau jenguk dia."
    "Rumah sakit Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo nak.."
    "Makasih ya tante, Melody mau kesana dulu."
    "Iya nak, sama-sama. Hati-hati yaa."
    Melody pun bergegas pergi ke rumah sakit yang dimaksud.
    "Stella maafin aku. Waktu aku butuh kamu, kamu selalu ada. Tapi waktu kamu butuh aku, aku nggak ada disana. Tunggu aku, aku akan datang.." batin Melody.
    Sementara itu..
    "Mel, kamu dimana? Apa kamu masih belum tahu kalau aku terbaring lemas disini? Atau kamu udah tahu tapi nggak peduli? Aku butuh kamu sekarang Mel. Disini sepi banget, aku kesepian. Aku butuh kamu yang bisa nemenin aku.." batin dan pikir Stella.
    Melody pun tiba di rumah sakit. Ia bertanya di ruang berapa Stella dirawat. Setelah tahu, ia langsung menuju ke ruang itu. Ketika ia kesana..
    "Stellaaa.." kata Melody khawatir.
    Tapi di ruang itu kosong. Stella tidak ada disana. Melody semakin sedih. Ketika ia ingin menemui sahabatnya, Stella justru tidak ada.
    "Dimana kamu Stell?" ucap Melody sambil ngos-ngosan karena berlari ke ruang itu.
    Melody mengelilingi rumah sakit dan mencari dimana sahabatnya berada. Berkali-kali ia mencari, tapi tidak ada. Melody lalu duduk lemas di kursi taman yang ada di rumah sakit itu. Ia melihat seorang gadis dengan seragam pasien yang sedang duduk di seberangnya sambil melihat langit biru.
    "Apa itu Stella? Batinnya.
    Melody menghampiri gadis itu, dan ternyata benar, ia Stella.
    "Stella.." ucap Melody memeluk erat sahabatnya itu.
    "Melody. Aku kangen kamu.." kata Stella.
    "Aku juga Stell, baru dua hari nggak ketemu, tapi rasanya lama banget.."
    "Kenapa baru sekarang kamu kesini? Apa sebelumnya kamu nggak tahu?"
    "Sebenernya setelah pesta itu, aku dapet siasat dari gelas yang aku bawa dan tiba-tiba pecah. Tapi aku nggak mau berpikiran negatif tentang kamu, jadi aku abaikan itu. Tapi ternyata, itu malah kenyataan yang sebenernya.." jelas Melody.
    "Ya udah, nggak papa kok. Tapi apa kamu juga lupa sama janji kita dulu sampai-sampai kamu seakan nggak sadar sama kondisi aku?"
    "Janji apa? Yang mana Stell?"
    "Hhehe, ternyata kamu lupa. Ya udah, lupakan aja Mel." ucap Stella tersenyum.
    Melody penasaran, janji apa yang pernah mereka berdua ucapkan. Ia mencoba mengingatnya. Ia ingat, lalu..
    "Jika suatu hari kamu merindukan seseorang, kamu bisa memanggil aku. Aku tidak berjanji bisa menghapus rindumu itu, tapi aku bisa menggantikan orang yang sedang kamu rindukan.." ucap Melody.
    Stella pun, kaget. Ternyata Melody masih ingat janji lama itu. Dan ia sadar kalau Melody memang sahabat terbaiknya. Sambil menatap langit biru yang indah, Stella melanjutkan..
    "Jika suatu hari kamu menangis, kamu bisa memanggil aku. Aku tidak berjanji bisa menghentikan tangismu dan membuatmu tertawa. Tapi setidaknya aku bisa menangis bersamamu.." kata Stella.
    "Jika suatu hari nanti kamu sakit hati, panggil saja aku. Mungkin aku tidak bisa mengobati sakit hatimu itu, tapi aku bersedia sakit hati bersamamu." ucap Melody.
    "Jika suatu hari kamu tidak ingin mendengarkan siapapun, panggillah aku. Aku berjanji akan ada disana untukmu, dan akan benar-benar diam bersamamu.." lanjut Stella.
    Melody mulai meneteskan air mata mengingat semua kenangan dengan Stella. Dan melanjutkan janji mereka.
    "Jika suatu hari nanti kamu ingin pergi karena suatu masalah, jangan ragu untuk memanggilku. Aku berjanji untuk tidak memintamu tetap tinggal, tapi aku bisa pergi berdua bersamamu.." kata Melody.
    Stella ikut meneteskan air mata. Ia memegang tangan Melody, dan mengucapkan janji terakhir mereka..
    "Tapi jika suatu hari nanti kamu memanggilku dan aku tidak datang, datanglah dan secepatnya mencariku. Karena mungkin aku yang membutuhkanmu.." janji itu mereka ucapkan bersamaan..
    "Thanks Mel, kamu sahabat terbaikku.."
    "Kamu juga Stell. Terima kasih.."
    Langit biru yang indah menjadi atap persahabatan mereka. Rumput hijau yang subur menjadi lantai persahabatan mereka. Bunga-bunga di taman seolah menjadi bagian dari keindahan persahabatan mereka berdua. Itulah persahabatan yang sejati. Jangan ada saat pada saat kamu sedang membutuhkan dia saja, tapi datanglah juga saat dia membutuhkanmu. Saat kamu disana, dan dia tak ada, mungkin di tempat lain sahabatmu membutuhkan kamu.

~ END ~

Quotes inti dari cerpen ini : Persahabatan itu satu jiwa yang terdiri dari dua orang. Dan sahabat itu orang yang tahu semua tentangmu, dan masih mau menjadi sahabatmu tanpa meragukanmu. Maka jangan pernah berjalan di belakang sahabatmu, dia mungkin tidak mau memimpin. Jangan berjalan di depan sahabatmu, dia mungkin tidak akan mengikuti. Tapi berjalanlah di sampingnya, dan bersama menjadi sahabatnya.

LONG DISTANCE RELATIONSHIP

ane mau share/curhat kisah cinta ane sama cewek jepang gan.. Sebut saja akicha
yang jelas dari awal gak pernah niat punya cewek dari jepang, semuanya terasa seperti mimpi..sebelumnya ane minta maaf kalo cerita ane acak2an,soalnya ane nubi, jadi ane gak tau cara bikin cerita yg bener.. jadi tolong jangan di ketawain

--kenalan dan jadian
agan tau kan PICO? game buat chatting di facebook..nah berhubung ane suka banget sama hal2 yang berbau Jepang, dan juga pada saat itu ane lagi belajar bahasa Jepang, ane sering masuk ke room yang banyak orang Jepangnya, niatnya sih biar bisa belajar langsung bahasa Jepang.ane kenalan sama anak Indonesia yg juga suka sama Jepang (cewek).singkatnya dia ngenalin ane sama cewek Jepang,"eh aku ada kenalan cewek Jepang loh! dia suka sama Indonesia, mau di kenalin gak?" jelas aja ane mau.. terus ane dikenalin deh... setelah beberapa hari kenal ane langsung nanyain ID Skype nya dia, biar bisa ngobrol langsung,padahal ane baru banget belajar bahasa Jepang.tiap ngobrol pasti harus aja ada kamus, soalnya dia gak ngerti sama sekali bahasa Indonesia. setelah beberapa hari ngobrol di skype, dia beli webcam gan.. ane jadi bisa liat mukanya langsung via skype, jujur ane langsung suka tiga hari dari hari itu ane nembak dia gan, padahal dia belum sempet liat muka ane via webcam, cuma baru liat photo2 aja..awalnya sih dia gak mau, katanya gak mungkin lah pacaran jarak jauh buat dia.. tapi beberapa hari dari hari ane nembak dia akhirnya mau, tapii... cuma pacaran via internet, maksudnya dia, cuma status berpacaran doang di facebook.. walopun gitu ane tetep mau, yaa daripada jomblo.. seenggaknya ane ada status berpacaran

--pacaran mulai serius
sekitar 3 bulanan ane jadian sama dia, ternyata dia pengen ketemu ane gan, dan katanya dia pengen ke Indonesia, dan kebetulan ane pernah ngenalin dia tmn ane yg satu kota sama dia yg lagi kerja di kedutaan besar Jepang di Indonesia, dia minta saran dari temen ane itu. dia takut juga mau datang ke Indonesia soalnya banyak berita2 kayak terorrist dsb. bahkan ibunya dia pernah bilang gini "mau apa ke Indonesia? pengen mati kamu?" tapi singkatnya dia maksain buat datang ke Indonesia, dan pastinya setelah dia denger cerita tmn ane yg di kedutaan yg bilang kalo Indonesia gak seburuk itu

--pertama kali ketemu
singkat cerita dia udah beli tiket pesawat buat ke Indonesia, dan karena ane kere.. dia ngirim duit buat booking hotel 19 Januari 2013 (salah tahun, gan yg bener 2012) ane jemput dia ke bandara soekarno hatta..dan temennya dia sama pacarnya juga ikut jemput dia ke bandara. jujur aja ane baru pertama kali ke bandara, dan gak ngerti sama sekali harus gimana.. yg jelas ane udah janjian ketemu di 2 gate entah itu namanya lupa lagi,30 menit sebelum dia mendarat ane bolak balik terus diantara kedua gate itu, soalnya takutnya pesawat mendarat lebih cpet (ane gak liat sama sekali semacam papan informasi pesawat mendarat) soalnya gak ngerti sama sekali. pas ane balik ke gate awal ane nunggu, ane liat cewek putih tinggi lagi diajak ngobrol entah supir taksi ato apalah, ane masih ragu beneran dia bukan..ane coba samperin sambi nyebut nama dia,akicha ya??? dia ngangguk sambil senyum.. bener2 keliat lebih cantik pas ketemu langsung daripada di photo/webcam.dari situ cuma satu yg ane pikirin, pasti dia langsung ngajak putus.. kaget, seneng, bingung,minder, takut campur aduk. tiba2 ada telepon dari tmnya dia, ketemuan terus langsung pergi ke kostan tmnya dia pake taksi.. dari awal ketemu ane masih ragu dia suka sama ane.. tapi pas ane jalan2 berempat ke salah satu plaza di Jakarta, tangan dia nempel2 terus ke tangan ane kayak yg pengen dipegang, yaudah ane coba pegang dan.. dari situ ane yakin dia mau sama ane

--ketakutan di jalan
pas dia datang ke Bandung waktu ane bawa jalan lewat ke pasar burung yg penuh dengan bapak2 hampir semua ngeliatin terus kami berdua. dia nangis sambil teriak2 "apaan sih liat2 terus? saya emang putih dari lahir, jadi bukan salah saya,jangan liatin terus dong!" (pake bahasa Jepang) otomatis mereka malah makin ngeliatin dia gan..disangkanya ane lagi berantem sama cewek ane mungkin sempet ane bonceng dia pake motor temen dia teriak2 ketakutan "kowai kowai!!" "takuut takuut!", dia juga keheranan ngeliat jalanan yg penuh sama motor dan macet.

dimanfaatin sopir taksi
ane sempet ketipu sama taksi gan 2 kali gara2 bawa cewek ane..pertama taksi yg emang gak punya nama, pas diperempatan itu ongkos langsung nglonjak dari sekian ribu jadi 200ribu.. kesel banget pengen marah tapi gak jadi soalnya kasian cewek ane, ane ngalah deh ngasih ongkos 300 sekian ribu.. terus yg keduanya pas dia mau balik ke Jepang, nyari taksi kesana sini susah gak dpt2, nelpon ke bulubird gak dikasih katanya dari tempat ane gak ada taksi itu yg deket atau apalah lupa lagi.Akhirnya nemu taksi ekpres , ane datengin gak ada tanda pengenalnya tapi berhubung ane udah percaya ama ini taksi ane naik aja gak banyak ngomong, langsung jemput cewek ane di hotel tempat dia nginep, terus pergi deh..nah kalo yang ini argonya terus2an naik walaupun lagi macet mana naiknya gede pula..waktu itu di daerah astana anyar Bandung, dari sini cewek ane marah2 ke supir taksi "ane.. ane..ane..!!!" "ck.. ckk..ckk!" "ane.. ane.. ane!!!" itu dia maksudnya bilang "aneh.. aneh.. aneh!!" ane tadinya mau marah malah jadi ketawa gan.. waktu itu bner2 gak bisa mikir panjang, mana lagi buru2 ngejar waktu, padahala tadinya kalo ane photo/video orangnya kayaknya bakalan bener lagi tuh argo..tapi akhirnya ane turun deh di perempatan astana anyar, lagi2 ane bayar pas sama argo yg tertera dari situ ane jalan berdua sambil dorongin koper,mana panas macet total orang2 pada ngeliatin
serasa di felem aja gan..
akhirnya nemu deh taksi ge***ri**h, dari situ gak
mau lagi ketipu langsung aja ane nego harga, dan
berhasil sampai ke tempat travel di cihampelas

--pertama kali di bawa ke rumah
pertama kali ane bawa ke rumah ane sendiri gan,
semua orang di gang pada ngeliatin(rumah ane
masuk gang), bahkan sempat diikutin sama bocah2 kayak ngikutin ondel2 kalo disini cewek ane malah ngasih permen ke
bocah2nya jadi tambah banyak dah tuh bocah.. pas sampe rumah ternyata babeh ane bibirnya
entah bocor atau kenapa, di rumah udah banyak
sodara ane, katanya pengen liat bahkan tmen2
nongkrong babeh ane sampe banyak yang datang kayak yg ngelayad orang sakit cewek ane sempet takut gan, soalnya liat pakean
babeh ane putih2 kayak ane mau tunangan gitu,
mana rumah dibersihin sebersih2nya, padahal
biasa berantakan.
dan hampir semua keluarga besar nenek ane tau
gan padahal ane belum pernah nyerita sama mereka dan sampe sekarang alhamdulillah, hubungan ane
masih awet.. meskipun sering sekali berantem
gara2 hal sepele,
dia udah sekitar 6 kali kirim surat ke ane gan, 2
surat biasa 4 lagi paketan makanan, souvenir, baju
dll.. karena keseringan kirim2 barang akhirnya ane bilang gak usah ngirim2 lagi soalnya kasian
dianya di Jepang nya kan dia bukan termasuk
orang kaya. dan dia baru 3 kali ke Indonesia, 1kali
ke bali (sebelum kenal ane) yg 2nya lagi ke
Indonesia buat ketemuan sama ane.

berhubung keuangan ane sangat2 tipis, ane
sekarang jarang skype palingan cuma whatsapp,
kadang2 sih seminggu sekali skype buat denger suara dia biar ilang kangennya.. dia udah mau masuk agama ane gan(Islam), udah
ane terangin semua soal puasa, larangan makan
babi, alkohol, harus pake kerudung..
dia bilang yang paling berat mungkin harus
berhenti makan daging babi sama puasa, tapi
"berusaha!" katanya

ane hanya orang biasa, orangtua ane udah lama cerai gan.. ekonomi ane seret bener gan, motor aja gak
punya sempet sih punya (nganjuk) tapi udah
dibalikin lagi soalnya gak kebayar cicilan.. waktu pertama jadian sih ane masih jadi operator
warnet..
dan di warnet itu juga ane belajar bahasa Jepang
sampe kenalan sama cewek ane..
tapi sayangnya warnetnya keburu bangkrut dan
ane sekarang nganggur, baru beres lamar sana sini, tinggal nunggu panggilan.. dan cewek ane nerima ane apa adanya, ane jujur
sama dia gak ada yg ditutup2in..
dia bilang gini "asalkan bisa berdua sama kamu aku udah senang!" seneng banget ane gan, tapi tetep aja dia nyuruh ane nyari kerja.. dan
itu jadi motivasi buat ane gan!

Jumat, 15 November 2013

Sepeda dan Sneakers Vienny

Pagi yang sunyi, disebuah kota kecil tempat tinggal baruku.Aku sudah rapi dengan seragam sekolah dan menenteng sneakers yang akan kupakai,hari pertamaku bersekolah disini."Vin, sudah buka toko belum? Ibu taruh uang jajanmu diatas lemari toko.","udah bu."jawabku.Ya, aku Viny.aku berasal dari keluarga sederhana penjual bunga.Kami baru pindah kemarin.

***

Dengan kayuhan sedang kulewati jalan yang sepi,namun ramai pedagang dipinggir jalan,sampai akhirnya terlintas oleh pandanganku pada suatu kios yang menjual sepatu antik,sepeda antik,dan alat tulis antik.Dan semuanya telah rapuh dan usang,kuberhentikan sepedaku dan masuk kedalam toko tersebut."Permisi pak,"kucoba menyapanya,"Iya anak muda, mengapa engkau disini?kayuhlah sepedamu dan sekolah!"dengan sedikit membentak dia berbicara padaku,"Saya hanya mau bertanya, kenapa bapak menjual barang yang sudah usang dan tua? apa bapak tidak ada modal untuk membeli yang baru?"kucoba bertanya.


"Pergi sekolah dulu nak,aku tidak akan menjawabmu sebelum kau mengayuh sepedamu kesekolah dan mendapat nilai 100."jawabnya.Aku tercengang mendengarnya, segera kukayuh sepedaku dan meninggalkan toko itu.Diperjalanan, kata-katanya tadi masih terbayang dipikiranku.

***

Disekolah, sewaktu pelajaran matematika,"Anak-anak,hari ini kita akan mengadakan ulangan.Dan bagi yang tidak mendapat nilai 100,saya tidak akan beri kalian nilai di raport."jelasnya,Aku kaget setengah mati, sudah 2 orang mengatakan kata-kata itu kepadaku.Akupun merasa tertantang untuk memperebutkan nilai 100 tersebut, dan.."Ya selamat Viny dan 8 lainnya kalian mendapat nilai 100."ucap guru itu,aku yang senangnya bukan main langsung meraih lembar jawabanku.
Bel pulang berbunyi.

***

Kukayuh sepeda secepat mungkin,Dengan mengantongi angka 100, aku sudah berharap pertanyaanku akan dijawab oleh pemilik toko tersebut,sesampainya disana,"Pak, permisi."aku mengetuk pintunya dengan tidak sabar.


"Ada apa nak?"pemilik tokopun datang,"Saya sudah mendapatkan nilai 100 disekolah tadi,pak.Jadi, bapak maukan jawab pertanyaan saya tadi pagi."kataku memohon."Baiklah nak,sebenarnya barang-barangku tidak untuk dijual,nak."Katanya."Hah? jadi untuk apa ini semua dipajang?"tanyaku heran,"Ini kita bisa ambil makna sejarahnya, kau lihat sepatu yang itu, itu pemiliknya adalah mantan Presiden Jepang, dan sepeda ini milik Ir. Soekarno, mereka adalah orang hebat yang patut kita hargai, karna lewat barang-barangnya inilah dia menciptakan Sejarah emas dan pemimpin negara."jelasnya,Aku hampir tak bisa berkata apa-apa lagi,"Dan saya harap, nak.kau bisa menjadi seperti mereka yang terhormat dan dihargai."timpalnya.
Aku lalu berpamitan dan pulang dengan senyuman penuh motivasi.dalam hidup ini,yang penting adalah berusaha menjadi baik, karna dengan baik itulah kita bisa dihargai dan dihormati.

PAYUNG PINK

“Ah hujan!!” keluh Adhe sambil berlari menuju ke kelas, “apa-apaan ini, jam segini udah ujan” ya memang hari itu hujan turun lebih awal, biasanya sore baru hujan namun waktu itu jam 10 pagi dan sudah hujan. Akhirnya Adhe sampai di kelas. “Seharusnya saya ke kantin dulu tadi, ah ntar aja pas istirahat kedua” hari itu Adhe memilih tempat duduk agak belakang dan dekat dengan jendela, agar sewaktu-waktu dia dapat melongok ke jendela, “Ah masih lama ini guru datengnya, apalagi hujan” keluh Adhe lagi, lalu Adhe berjalan mendekati jendela. Kelas Adhe terletak di lantai 2 sehingga dia bisa melihat-lihat ke Lapangan di bawah. Saat dia sedang mengamati sekeliling, tiba-tiba dia melihat cewek memakai payung pink, sesaat dia melongok keatas, mungkin dia melihat apakah masih hujan atau tidak, karena waktu itu hujan agak reda. “Cewek itu manis sekali” pikir Adhe, “Kelas berapa dia ya ?” Adhe bertanya-tanya dalam hati.

Bel pulang berbunyi, dan hujan pun reda. Adhe bergegas pulang kerumah karena dia takut terjebak hujan lagi dan tak bisa pulang. Sesampainya di rumah Adhe masih penasaran dengan cewek yang memakai payung pink tadi, seharian Adhe gunakan waktunya untuk memikirkan cewek itu. Paginya Adhe bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah lagi, “Semoga hari ini hujan lagi, agar aku bisa melihat cewek yang kemarin lagi” Adhe senyum-senyum sendiri, lalu dia pun bergegas berangkat menuju sekolah.

Sebenarnya Adhe masih agak mengantuk saat pergi ke sekolah hari ini, karena semalaman Adhe memikirkan cewek yang dilihatnya di sekolah. Kelas sudah ramai, tapi untung bangku yang kemarin masih kosong, Adhe duduk disitu lagi hari ini agar bisa melihat cewek yang kemarin lagi. Hingga siang hujan tak juga turun “Ah apes, hari ini nggak hujan, nggak bisa liat cewek yang kemaren lagi deh” saat pulang sekolah tiba-tiba hujan turun dengan derasnya “Huehehe, kayanya saya bakalan liat cewek yang kemarin lagi nih” pikir Adhe dalam hati, “Ah mana dia, knapa nggak lewat-lewat lagi” lalu Adhe berjalan ke kantin dan hujan pun sudah agak reda, Adhe merasa agak lapar karena hari itu sudah agak sore sehingga dia mulai lapar. Sesampainya di kantin dia pun mulai makan. “Ah kenyang, pulang ah” kata Adhe setelah selesai makan, namun tiba-tiba hujan turun lagi “Ah apa-apaan ini, ujan lagi” Adhe terperangkap di kantin. Tiba-tiba keluar cewek dengan payung pink dari kantin sebelah, dia berjalan sendirian. “Hah!! Cewek yang kemarin” kata Adhe dalam hati, belum jauh cewek itu jalan tiba-tiba dia terpeleset, mungkin jalannya licin karena hujan, kelihatannya kakinya agak terkilir, lalu Adhe langsung pergi menghampiri cewek itu, “Kamu tidak apa-apa ?” tanya Adhe, “Sepertinya kakiku agak terkilir” jawab cewek itu sambil menahan sakit, “Masih bisa jalan kan, saya bantu sampai ke UKS ya ?” cewek itu hanya mengangguk, lalu Adhe memapahnya berjalan hingga ke UKS, untung waktu itu UKS belum tutup, karena masih ada ekstrakulikuler. Adhe mengambilkan obat untuk kaki cewek itu. “Nama kamu siapa ?” tanya Adhe, “Frieska” jawabnya dengan singkat, sepertinya dia pemalu. Beberapa menit berlalu dalam diam, hingga tiba-tiba Frieska berkata “Adhe, bisa antar saya sampai gerbang sekolah ?” tanya Frieska, “Hhmmm, iya, ayo, tapi masih hujan ?” “Ya kan ada payung” jawab Frieska “Ah, iya ya, lupa, hehe” mereka berdua tertawa, “Ayo” ajak Adhe, lalu Adhe pun memapah Frieska berjalan menyusuri lapangan di bawah guyuran hujan terlindung di bawah payung pink. Sesampainya di gerbang sekolah ternyata Frieska sudah dijemput oleh ayahnya. “Adhe, terima kasih ya, ma’af merepotkan kamu” kata Frieska, “Ah tidak apa-apa, cepat sembuh ya, oh iya, payungnya ?” “Sudahlah, bawa kamu dulu, kamu kan membutuhkan payungnya, dan biar kita bisa ketemu lagi” kata Frieska sambil tersenyum, lalu mobil Frieska pun pergi meninggalkan sekolah, Adhe masih memandang mobil itu hingga mobil itu tak terlihat lagi. “Hari yang indah” kata Adhe lirih sambil tersenyum.

Detektif Ve

“Niiit… niiit…” suara handphone berdering.
“Halo… iya baik aku akan segera kesana.” Ucap seorang wanita.

Wanita itu bergegas menuju mobilnya menuju suatu tempat. Wanita itu melesatkan mobilnya di tengah malam yang dingin dengan di iringi rintik air hujan. Wanita itu adalah seorang detektif, Ve namanya, seorang wanita yang cantik, manis dan juga cerdas.

Tak butuh waktu lama, Ve pun tiba di suatu halte yang letaknya hanya 3 blok dari sebuah bank. Disana terlihat kerumunan masyarakat menyaksikan petugas kepolisian yang sedang mengidentifikasi sesosok mayat pria dewasa.

“Ve, cepat kau lihat ini.” Seorang inspektur kepolisian mengahmpiri Ve yang menyalip di tengah kerumunan masyarakat. Ve menghampiri mayat pria itu dan membuka kain penutup wajah di mayat.
“Dia kan?” Ucap Ve terkejut.
“Aku menemukan ini di dekat korban.” Ucap inspektur sambil menunjukkan sebuah tas berisi uang, sebuah pistol dan sebuah kalung berbentuk setengah hati.

Dari kejauhan datang seorang petugas kepolisian dengan napas terengah-engah.

“Lapor inspektur, telah terjadi pencurian di bank yang letaknya tidak jauh dari tempat ini.” Lapor petugas itu.
“Baiklah aku dan detektif Ve akan segera kesana. Sekarang bawa korban ke rumah sakit untuk di visum. Dan bawa barang bukti yang telah di temukan ke markas.” Ucap inspektur.

Ve dan inspektur bergegas menuju bank.

“Bagaimana kejadiannya?” Tanya inspektur kepada security bank yang terlihat masih shock.
“Tadi ketika aku sedang berjaga, aku di pukul seseorang dari belakang dan aku pun tak sadarkan diri. Ketika aku sadar, aku sudah berada di dalam gudang dengan tangan terikat di belakang. Langsung saja aku berteriak minta tolong. Dan untung saja orang itu mendobrak pintu gudang dan menolongku.” Ucap security bank menjelaskan.
“Kau yang menolongnya?” Tanya inspektur kepada seorang pria.
“Iya, saat itu aku melihat pintu belakang bank terbuka dan terdengar suara minta tolong. Langsung saja aku menuju suara itu yang ternyata berasal dari gudang.” Ucap pria itu menjelaskan.

Tiba-tiba Ve datang dari dalam bank menuju gudang, tempat inspektur berada saat ini.

“Inspektur aku menemukan ini.” Ucap Ve menunjukkan sebuah balok yang dia temukan di dalam bank.
“Steve?” Ucap Ve terkejut.
“Ve?” Ucap pria yang tadi menolong security.

*

Pagi itu Ve sedang menikmati sarapan bersama adik satu-satunya yang bernama Jessica. Ve hanya tinggal berdua dengan adiknya.

“Semalem kamu kemana Jes?” Tanya Ve.
“Hmm… semalem aku... semalem aku… aku ke supermarket, aku berangkat dulu ya kak.” Ucap Jessica dengan gugup.
“Iya hati-hati.” Ucap Ve.

Ve heran dengan sikap Jessica pagi ini. Tidak seperti biasanya, Jessica yang periang dan banyak bicara, pagi ini sedikit berubah menjadi pendiam dan gugup dalam berbicara. Ya mungkin dia sedang ada masalah di sekolahnya atau mungkin punya masalah dengan teman-temannya.

*

Siang itu Ve melangkahkan kakinya di lorong markas kepolisian yang terlihat sibuk. Langkah Ve terhenti di sebuah ruangan bertuliskan “Ruang Investigasi”.

“Inspektur.” Sapa Ve.
“Oh Ve, ayo cepat kesini.” Balas inspektur.

Ve berjalan menuju sebuah meja yang berada di tengah ruangan. Dimeja itu terlihat barang bukti yang kemarin ditemukan ditempat kejadian.

“Lihat ini Ve.” Ucap inspektur sambil menunjukkan selembar kertas berisi biodata mayat yang di temukan di halte kemarin.
“Ya, aku juga sudah tau. Dia adalah buronan pembunuhan waktu itu.” Ucap Ve sambil teringat kejadian pembunuhan adik Steve, pacar Ve.
“Aku telah menemukan sidik jari pada balok yang diduga dipakai untuk memukul security bank itu. Dan ternyata itu adalah sidik jari mayat pria yang berada di halte itu. Bisa dipastikan mayat itulah yang mencuri di bank itu, hal ini karena diperkuat dengan tas berisi uang yang ditemukan di samping mayat itu dan jumlah uangnya sama dengan uang yang hilang di bank.” Ucap inspektur menjelaskan.
“Lalu bagaimana dengan pistol itu? Siapa yang menggunakannya?” Tanya Ve.
“Itulah yang membuat ku heran. Sidik jari pada pistol itu juga sidik jari milik mayat itu. Dan kau juga tau ada luka tembak di kepala si mayat.” Ucap inspektur sambil mengerutkan wajahnya.
“Jadi maksudmu, mayat itu bunuh diri setelah dia mencuri di bank?” Tanya Ve heran.
“Ya mungkin saja.”

Tiba-tiba datang seorang petugas kepolisian membawa sebuah berkas.

“Lapor inspektur. Ini berkas hasil visum mayat yang ditemukan di halte kemarin.” Ucap petugas itu sambil memberikan berkas yang dia bawa.

Inspektur dan Ve membaca berkas itu dengan wajah serius.

“Sepertinya ada keganjilan pada kasus ini. Dari hasil visum, dinyatakan bukan hanya luka tembak dikepala saja, tapi ada luka lebam dipunggung, ulu hati dan belakang kepala korban.” Ucap Ve terheran.

Inspektur dan Ve terdiam sejenak.

“Berarti ada kemungkinan mayat ini dibunuh dengan benda tumpul. Lalu untuk menghilangkan jejak, setelah korban tak bernyawa, si pembunuh menembakan pistol ke kepala korban dengan menggunakan tangan korban.” Ucap Ve.
“Mungkin benar, tapi kita tak menemukan benda tumpul sebagai bukti kecuali balok kayu yang ada di dalam bank itu. Tapi tidak mungkin si pembunuh memakai balok itu karena balok itu berada didalam bank sedangkan pembunuhan itu terjadi di halte yang jaraknya 3 blok dari bank itu.” Ucap inspektur.
“Pasti ada barang bukti lain, kalo begitu sekarang aku akan ketempat kejadian semalam. Permisi inspektur.” Ucap Ve dan beranjak pergi.

Ve bergegas menuju tempat kejadian dengan mengendarai mobilnya.

*

Siang itu Ve tiba di tempat kejadian yang terlihat sepi dan masih terpasang garis polisi. Masih ada percikan darah di tempat kejadian. Ve mengelilingi halte tempat kejadian itu. Dia telusuri dengan teliti tempat itu untuk mencari benda tumpul yang pakai untuk membunuh korban. Lama dia mencari, tapi dia tidak menemukan apapun.
Ve pun berinisiatif menelusuri jalan menuju bank yang juga terjadi kasus pada malam itu. Perlahan dia menelusuri jalan hingga sampai di bagian belakang gedung bank itu. Dan Ve juga tidak menemukan apapun. Tapi tunggu dulu. Mata Ve tiba-tiba tertuju pada sebuah balok yang berada di samping pintu belakang bank itu. Ve terkejut melihat ada bercak darah pada balok itu. Ve langsung mengambil balok itu. Dia masih heran kenapa ada balok dengan bercak darah di samping bank. Apa mungkin ini balok ini dibuang oleh toko daging yang berada di samping bank itu? Dengan rasa penasaran, Ve masuk ke toko daging yang ada di samping bank itu.

“Kliniiing… Kliniiing…” Bunyi bel di pintu toko daging.
“Ada yang bisa saya bantu nona cantik?” Sapa penjual di toko daging itu.
“Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud untuk membeli daging, tapi saya ingin menanyakan sesuatu. Apa bapak yang membuang balok ini?” Tanya Ve sambil menunjukkan balok yang dia temukan itu.
“Aku tidak pernah membuang apapun kecuali daging-daging yang telah busuk.”
“Terima pak atas informasinya.”

Ve pergi meninggalkan toko itu. Belum jauh dia melangkah, dia melihat sobekan kain dengan bercak darah pagar toko itu. Sepertinya itu sobekan jaket atau semacamnya

*

Malam harinya Ve mempunyai janji dengan pacarnya, Steve. Karena hari inigenap 3 tahun mereka berpacaran. Steve terlihat sedang menunggu Ve disebuahrestoran bernuansa Perancis dengan iringan music klasik. Ve pun datang dan langsung menutup amat Steve dari belakang.

“Aku tau. Pasti ini kamu ya.” Ucap Steve sambil memagang tangan Ve yang menutupi matanya.
“Haha kok kamu tau sih?” Ucap Ve yang bernajak ketempat duduknya yang berhadapan dengan tempat duduk Steve.
“Ya taulah, tangan selembut itu cuma kamu yang punya.”
“Kamu bisa aja deh.”
“Oh iya Ve, ada sesuatu nih buat kamu.” Ucap Steve sambil memberikan sebuah kotak berisi cincin.
“Ini? Makasih ya sayang.” Ucap Ve dengan wajah yang memerah.
“Iya sama-sama, makasih ya kamu udah menemani hari-hariku selama tiga tahun ini.” Ucap Steve dengan tersenyum.
“Iya sama-sama sayang. Makasih ya kamu udah nolongin security bank kemarin malam.”
“Iya kebetulan aja aku lewat situ. Yaudah kita makan dulu yuk.”

Ve dan Steve menghabis malam bersama di restoran itu dengan suasana yang romantis.

“Ve, aku ke kamar mandi dulu ya.” Steve beranjak dari kursinya dan meninggalkan jaketnya diatas meja.

Ve melihat jaket Steve robek di bagaian belakang. Ve tidak memperdulikannya, ya mungkin saja jaket itu tersangkut atau semacamnya.

*

Siang itu Ve kembali ke markas kepolisian.

“Aku telah menemukan sidik jari dari balok yang kamu temukan di dekat pintu belakang bank itu.” Ucap inspektur.
“Bagaimana hasilnya?”

Inspektur terdiam dan menundukkan kepalanya.

“Kita tidak menemukan apa-apa.” Ucap inspektur dengan ekspresi kecewa.
“Apa? Tapi…” Ucap Ve terheran.
“Kurasa pembunuhan ini sudah terencana. Dia pasti menggunakan sarung tangan dalam aksinya ini. Di semua barang bukti hanya ada sidik jari korban tak ada sidik jari yang lain.” Ucap inspektur.
“Baik kalo begitu aku akan kembali ke tempat kejadian untuk mencari informasi.” Ucap Ve sambil pergi meninggalkan markas.

Tiba di tempat kejadian, Ve mencoba bertanya pada pelayan super market yang berada persis di seberang halte.

“Silakan, mau beli apa nona?” Tanya pelayan super market.
“Apa bapak tau tentang pembunuhan yang terjadi di halte di dekat sini?”
“Ya saya tau, memangnya kenapa nona?”
“Apa bapak melihat keganjilan saat sebelum kejadian itu?”
“Aku tidak melihat apa-apa selain aku melihat seorang gadis dan pria yang membeli beberapa makan di supermarket ini dan aku juga melihat David di dekat halte malam itu.” Ucap si penjual itu sambil memegang dagunya.
“Siapa David?” Tanya Ve heran.
“Iya dia adalah David. Setiap malam dia memang sering mabuk-mabukkan, bahkan dia sering memalak orang-orang yang lewat di sekitar halte itu.”
“Apakah kau tau dimana rumah si David itu?”
“Aku tidak tau. Tapi aku sering melihatnya di sekitar jembatan yang berada di ujung jalan ini.” Ucap si penjual itu sambil menunjuk jalan yang ada di depan tokonya.
“Terima makasih pak atas informasinya.” Ucap Ve sambil pergi meninggalkan toko itu.

Ve melesatkan mobilnya ke jembatan itu. Setibanya di sana, dia melihat seorang pria bertubuh besar yang sedang merokok duduk di pinggir jembatan.

“Maaf apakah kamu yang bernama David itu?” Tanya Ve.

Pria itu tidak menjawab dan malah melihat Ve dengan tatapan tajam. Pria itu berdiri dan membuang rokoknya. Lalu berjalan kearah Ve.

“Siapa kamu?” Tanya pria itu.
“Aku Ve, dari kepolisian.” Ucap Ve sambil menunjukkan kartu pengenalnya.
“Ada urusan apa kamu menemui ku?”
“Jadi benar kamu David. Aku ingin menanyakan peristiwa pembunuhan di dekat halte kemarin malam. Kamu berada disana saat kejadian itu kan?”
“Apa untungnya jika aku menjawab pertanyaan mu?” Ucap David sambil meninggalkan Ve.
“Hey tunggu! Aku serius. Jika kamu tidak mau member informasi tentang kejadian itu, maka kamu akan aku tangkap.”

Mendengar hal itu, David malah berlari meninggalkan Ve. Ve mencoba mengejar David. David berlari kedalam hutan yang berada didekat jembatan itu.

“Kemana dia?” Gumam Ve dalam hati.

Ve langsung menelpon inspketur.

“Halo inspektur. Aku rasa aku tau siapa pembunuhnya.”

Tak beberapa lama inspektur datang dengan belasan orang petugas kepolisian. Ve, inspektur dan para petugas kepolisian menelusuri hutan kota yang tidak terlalu luas itu. Dan mereka melihat sebuah rumah kecil di pinggir hutan dekat sebuah danau. Mereka lalu mengepung rumah kecil itu.

“Tempat ini sudah di kepung. Cepat keluar!” Teriak inspektur.

Lalu seseorang keluar dari dalam rumah itu.

“Cepat tangkap dia!” Perintah inspektur.

Petugas kepolisian menangkap orang itu dan membawanya ke markas kepolisian. Saat Ve ingin pergi meninggalkan rumah kecil itu, dia melihat dari jendela 3 orang anak-anak berada di dalam rumah itu. Siapa mereka? Mungkin dia anak dari David. Ve beranjak sambil melihat ke arah rumah kecil itu.

*

Siang itu Ve kembali ke markas kepolisian.

“Bagaimana dengan orang yang bernama David itu inspektur? Apa dia benar pelaku pembunuhan itu?” Tanya Ve pada inspektur.

Inspektur hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ve pun menghela napasnya.

“Kurasa dia bukan pelakunya. Tapi menurutku dia adalah salah satu saksi kunci masalah ini. Masalahnya saat ini dia tidak mau berbicara apapun.”

Ve terdiam. Sejenak dia terbayang dengan anak-anak yang berada di rumah kecil itu. Ve merasa ada yang mengganjal dengan anak-anak itu. Ve pergi meninggalkan markas menuju rumah kecil itu.
Ve tiba di rumah kecil itu dan mengetuk pintu. Seorang wanita membuka pintu itu secara perlahan. Wanita itu membuka sedikit pintu rumahnya dan mengintip dari balik pintu. Nampaknya wanita itu ketakutan melihat Ve.

“Permisi… aku tidak akan menyakiti kalian.” Ucap Ve.

Wanita itu akhirnya mempersilakan Ve masuk. Ternyata wanita itu adalah istri dari David dan anak-anak itu juga anaknya David. Ve menanyakan masalah David kepada wanita itu. Dan nampaknya Ve mendapat informasi yang penting.

*

Siang itu juga Ve kembali ke markas dan memberitahukan informasi yang dia dapat kepada inspektur.

“Jadi begitu masalahnya. Tapi siapa orang yang di maskud istrinya David itu.” Ucap inspektur.
“Apakah sudah tidak ada barang bukti lain?” Tanya Ve.
“Oh iya aku tau.” Ucap inspektur sambil mengambil sesuatu di lemari barang bukti.
“Ini dia.” Inspektur menunjukan sebuah kalung berbentuk setengah hati.
“Ini kan? Kalung ini mirip dengan kalung Jessica.” Ucap Ve dengan terkejut.

Ve lansung menelpon adiknya, Jessica. Siang itu juga Ve menyuruh Jessica untuk datang ke markas kepolisian.

“Ada apa kak?” Tanya Jessica sambil membuka pintu ruang investigasi.

Tanpa banyak bicara, Ve langsung menunjukan kalung itu kepada Jessica.

“Itu kan?” Jessica terkejut.
“Apa ini punyamu?” Tanya Ve.
“Bukan kak, itu bukan punya ku.”
“Kamu bohong. Sejak kejadian pembunuhan malam itu, kamu terlihat aneh.”
“Coba kakak liat ini.” Jessica langsung menunjukkan kalung yang dia pakai dan memang mirip dengan kalung yang ditemukan di halte saat kejadian waktu itu.
“Jadi ini milik siapa? Dan kenapa kamu akhir-akhir ini terlihat aneh?”
Tiba-tiba Jessica langsung menutup matanya dan tertunduk. Nampaknya dia menangis. Ve langsung menghampiri Jessica dan menyuruhnya duduk.
“Kakak sebenarnya aku tau milik siapa kalung itu dan aku juga tau siapa pembunuh pada kasus malam itu.” Ucap Jessica dengan sedikit terisak.

Ve dan inspektur saling berhadap-hadapan. Jessica adalah saksi kunci dalam kasus ini. Jessica pun menceritakan semuanya kepada Ve dan inspektur.

“Kalo benar dia pelakunya, harus memiliki bukti yang kuat untuk membuktikannya.” Ucap inspektur.
“Aku tau!” Ucap Ve.

*

Malam harinya Ve mengajak Steve ke taman kota. Sepertinya ada suatu hal yang penting yang ingin di bicarakan.

“Hai Ve… udah lama nunggu ya?” Tanya Steve sambil memegang tangan Ve.
“Engga kok. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, kamu tau ini?” Ve langsung menunjukkan kalung itu.
“Itu…” Steve terkejut.
“Sekarang sudah terkuak semuanya. Kamu kan pembunuh pada kasus malam itu.” Ucap Ve.
“Kenapa kamu menunduhku seperti itu?”
“Aku sudah tau semuanya Jessica sudah menceritakan semuanya kepadaku. Malam itu kamu bertemu Jessica di supermarket kan? Kamu sudah tau kan bahwa akan ada pencurian bank malam itu, karena kamu terus mengikuti korban. Lalu kamu menunggu korban di halte itu. Setelah korban melewati halte, lalu kamu pukul kepala, ulu hati dan punggung korban. Lalu datang David yang saat itu lewat. Dan istirnya David bilang kepadaku kamu mengancam akan membunuh David kalo dia melaporkan kejadian malam itu. Lalu kamu berlari meninggalkan tempat itu kearah belakang bank hingga jaket kamu tersangkut dan sobek di bagian belakang. Dan untuk menghilangkan jejak, kamu berpura-pura menyelamatkan security bank itu kan? Sudah jelas semuanya sekarang.”

Steve terdiam sesaat.

“Hmm… kurasa aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Ya, memang akulah pembunuhnya.”
“Tapi kenapakamu berbuat seperti itu? Kau bukan seperti Steve yang selama ini aku kenal.” Ucap Ve dengan ekspresi kecewa.
“Apakah kau tau? Dia adalah pembunuh adikku. Apa yang dilakukan polisi untuk menyelesaikan masalah adik ku itu? Mereka malah mengabaikannya. Dan apakah kau tau rasa sakitnya kehilangan seorang adik?” Ucap Steve dengan anada keras.
“Tapi semuanya itu tidak terselesaikan dengan cara seperti itu. Dendam hanyalah akan menambah parah masalah yang kamu hadapi.” Ucap Ve.

Suasana menjadi hening sesaat.

“Tapi itu semua telah terjadi. Maafkan aku Ve.” Ucap Steve yang langsung memeluk Ve.

Ve menangis dalam pelukkan Steve. Inspektur dan petugas kepolisian yang mengintai dari jauh perlahan maju dan langsung menangkap Steve dari belakang.

“Apa-apaan ini?” Steve terkejut.

Kedua tangan Steve di tarik oleh petugas polisi. Ve pun melepaskan pelukan Steve.

“Kamu ditangkap karena terbukti bersalah.” Ucap inspektur.
“Tapi…Ve… Ve…” Teriak Steve yang di bawa petugas menuju mobil tahanan.
“Pergi… ak tidak mau melihat mu lagi…” Ve pun menangis dan memalingkan wajahnya dari Steve.

Jessica datang dan memeluk Ve. Inspektur berjalan menuju Ve.

“Kalau kita merelakan sesuatu yang hilang dari hidup kita, pasti Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik.” Ucap Inspektur yang berdiri disamping Ve sambil melihat Steve yang sedang dibawa pergi oleh petugas kepolisisan.
“Kau merelakan salah satu hal yang terpenting dalam hidupmu… Kerjamu bagus, kau hebat detektif.” Ucap inspektur sambil beranjak meninggalkan Ve dan Jessica.

Ve melepaskan pelukkan Jessica dan menghapus air mata dengan tangannya. Kini kasus ini telah terkuak oleh seorang detektif yang cantik, manis dan cerdas, yang bernama Veranda..

Nabilah JKT48 Come In My Dream

Sebelum gw certain pengalaman gw main sama Nabilah JKT48, gw mau memperkenalkan diri gw dulu. Hoy nama gw Taufik Ramadhan sering di pangil ofik (@fiexrama) , gw tinggal di Ciamis, umur gw sekarang 15thn, gw bisa di bilang gw fans-nya JKT48, knapa gw nge fans sama JKT48? Coz di situ ada oshi gw “Nabilah Ratna Ayu Azalia” gw suka liat photo-photo Nabilah di Twitter-nya(@NabilahJKT48) atau di Fans page JKT48. Mungkin orang banyak yang nanya “ko lu suka Girl Band sih fik?” gw suka bilang “pfffft, BITCH PLEASE, JKT48 BUKAN GIRL BAND, MEREKA IDOL GRUP”. Munkin pertanyaan itu jga pernah di dengar oleh para Fans JKT48 yang lain.
Ok sekarang gw mau certain kejadian-nya. Waktu Minggu malam tgl 14 april 2013 gw liat Pas Mantab di Trans7, karna di situ bkal ada JKT48. Disitu gw ketaw sendiri di kamar sambil liat Pas Mantab, apalagi klo Sule udah ngaku jadi papah-nya Nabilah (masih kebawa peran di OVJ kali), dan sule ngomong ke Nabilah “Sini nak peluk papa” setiap sule ngomong begitu gw selalu ketawa. Dan yang gw suka pada saat Nabilah ketawa, pasti para Nabilaholic udah tau gimana ketawanya. XD
Beberapa jam kemudian Pas Mantab selesai, padahal gw lgi seru-serunya liat JKT48. Pk lah gapapa, gw masih kepikiran soal JKT48 yang ada di Pas Mantab tadi, sampe-sampe meskipun gw liat tinju di RCTI gw masih ketawa-ketiwi aja, hahahahy. Gw udah ngantuk banget dan gw langsung tidur.
Dimimpi gw tiba-tiba ada Nabilah, wah gw seneng dong entah gw itu temenya atau pacarnya? (Nabilaholic jangan pada ngiri ini cma mimpi) di situ gw main bareng sama Nabilah, kami main PS bareng, meskipun di dalam mimpi, tapi suara ketawa Nabilah yang khas terdengar lagi saat dia ketawa, di situ kita makan bareng sambil ngobrol-ngobrol. Hari sudah malam gw sma Nabilah pun tidur (tidurnya beda kamar)
Keesokan hrinya kami bermain di halaman belakang rumah yang kami tempati, di sana banyak kuda-kuda yang jinak dan rumput-nya agak becek,kami mencoba menunggangi kuda tsb. Satu kuda berdua, gw di belakang Nabilah di depan, di bagian seru inilah gw lupa lagi mimpi gw, tapi yang jelas sedang seru-serunya naik kuda kami berdua jatuh dari kuda, dan pas jatuh di atas lumpur otomatis baju kami kotor semua, di situ kami tertawa terbahak bahak sambil berbaring di rumput, saat Nabilah ketawa gw liat ke arah-nya dan makin jelas wajah-nya yang cantik dengan di hiasi tahi lalat di pinggir bawah bibirnya, dan giginya yang gingsul menjadikan wajahnya tampak lebih manis.

Untuk Yang Terakhir (Beby Chaesara Anadila)

Langsung saja kuambil tas yang biasa kubawa saat pertandingan. Ya pertandingan Futsal, aku memang sudah lama menggeluti olahraga ini. Hari ini akan diadakan pertandingan antar SMA tempat ku sekolah dengan SMA tetangga. Langsung saja kupacu motor matic ku ketempat pertandingan tersebut. Karena aku tak mau ketinggalan babak penyisihan kejuaraan antar SMA tingkat kota ini.

Sesampainya disana sudah ada teman-temanku yang sedang bersiap. Seperti biasa Guntur teman baikku langsung menyambutku di parkiran.

"Jim, gimana lu udah siap kan" tanyanya.
"Udah dong siap fisik dan mental" jawabku.
"Siip deh, tapi lawan kita kuat loh tahun kemaren di kejuaraan ini mereka cuma kebobolan 6 gol !" tambahnya.
"Tenang aja kali bro, kan ada gue" kataku menenangkan.
"Gaya amat lu, udah ayo masuk nanti dimarahin pelatih lagi" jawabnya sambil mengajaku masuk ke tempat kita bertanding.

Akupun mengikutinya dari belakang. Memang cocok tempat ini dijadikan kejuaraan tingkat kota kondisinya memang sangat terawat. Karpetnya bagus, bench pemain masih mulus, toilet yang bersih, dan masih banyak keunggulan lainnya. Sesampainya dipinggir lapangan kami bertanding sudah ada Pak Pelatih. Ia langsung menginstruksikan aku dan Guntur yang baru datang untuk melakukan pemanasan. Sebelum pertandingan dimulai pelatih mengumumkan pemain yang akan bermain hari ini. Seperti biasa aku hanya dibangku cadangkan untuk memanaskan bench. Aku pun bisa mengerti, sudah biasa aku dicadangkan.

Priiittt...........
Pertandingan dimulai. Tim ku pun langsung mendapatkan peluang. Kali ini dari kepala Farza namun sayang sundulan kepala mulusnya hanya bisa membentur tiang gawang. Serangan pun datang sili berganti membuat pertandingan menjadi semakin seru. Hingga akhirnya di menit-menit akhir babak pertama tim lawan berhasil mencetak gol untuk mengubah skor sementara.

"Jim, kamu masuk menggantikan David di babak kedua. Kamu harus bisa mengatur permainan" instruksi pelatih.
"Siap pak !" jawabku penuh tanggung jawab.

"Eh Tur, awas ya kalo kebobolan lagi kamu harus traktir makan kita semua" kata Farza.
"Tenang aja Za, Guntur Adikusumo gak akan kecolongan lagi" jawabnya meyakinkan.

Akhirnya pertandingan dimulai. Dari kejauhan aku mendengar suara wanita yang sudah tak asing lagi. Segera saja kucari sumber suara itu.
"Jim, semangat ya !! kamu pasti bisa"teriaknya .
Benar saja dialah Beby pemilik suara indah itu. Dia adalah teman keciku. Wanita yang selama ini aku kagumi. Memang selama ini aku sudah menyukainya. Namun tak pernah ada dalam benakku untuk mungungkapkan perasaan ku ini kepadanya. Aku takut jika mengungkapkannya dia akan menolakku dan menjauh dariku.

Kembali ke pertandingam. Aku yang bertindak sebagai playmaker berusaha untuk mengatur jalannya permainan. Saat aku menguasai bola kucoba mencari Handi didepan, ku oper bola kepadanya. Dengan lihai dia memainkan bola yang ada di kakinya satu gerakan saja sudah bisa melewati pemain lawan dan akhirnya ditendangnya bola itu. Namun sayang bolanya hanya membentur tiang gawang. Tapi pantulannya langsung saja disambar oleh Farza dan akhirnya GOOL !!. Pertandingan kembali berlanjut, sekarang tim lawan balik menyerang namun kokohnya benteng pertahanan kami tidak dapat ditembus. Jual beli serangan pun terjadi. Hingga akhirnya di penghujung babak kedua bola jatuh di kakiku. Langsung saja kutendang bola itu kearah gawang. Dan terjadilah GOOL. Kami berhasil mempertahankan kedudukan. Pertandingan pun berhasil kami menangkan.

Setelah semua selesai akupun sesgera meninggalkan gedung tempat kita bertanding. Terdengar suara Beby dari belakangku.
"Jim !!!"
"Iya Beb"
"Liat niih !" katanya sambil menunjukan secarik kertas.
"Formulir pendaftaran menejer" aku membaca tulisan yang terpampang diatasnya.
"Kamu mau jadi menejer Beb ? Menejer apa ?" kataku lagi
"Ya menejer tim ini lah" jawabnya
"Emang kamu ngerti soal futsal ?" kataku sedikit meledek
"Iyalah kalo gak ngerti ngapain aku mau jadi menejer"
"Haha iya deh iya"
"Eh, aku pulang bareng kamu ya" ajaknya
"Hmm boleh aja sih tapi gapapa pake motor?"
"Nyantai aja kali"
"Okedeh"

Di perjalanan awan sudah semakin hitam. Rintik-rintik gerimis mulai membasahi jalanan. Sepertinya hujan akan turun. Akupun memilih untuk meminggirkan motorku.
"Kenapa Jim ko minggir ?"
"Pake ini nih, sebentar lagi hujan" kataku sambil menyodorkan jas hujan.
"Lha terus kamunya ?" katanya penuh tanya
"Udah tenang aja yang penting kamu gak kehujanan"
"Serius nih ?"
"Iya udah tenang aja"
"Hmm oke deh"

Benar saja dugaanku hujan turun begitu derasnya. Membuat badanku basah kuyup. Tapi, tak apa lah yang terpenting bidadari yang ada dibelakanku ini bisa tetap kering. Akupun semakin mengencangkan pedal gas motorku. Beby memegang pinggangku dengan sangat erat. Aku semakin mengencangkan pedal gas ku. Akhirnya kami sampai di rumah Beby. Aku mengantarnya sampai depan teras rumahnya.

"Jim, ini jas hujannya. Mau neduh bulu gak?" katanya
"Enggak deh gak usah malu sama orangtua kamu basah kuyup gini. Lain kali aja ya"
"Oh yaudah deh. Eh Jim makasih ya udah mau nganterin aku"
"Iya nyantai aja"
"Aku jadi gak enak"
"Nyantai aja beb kita kan udah kita temenan lama. Eh aku pulang dulu ya tambah deres nih"
"Iya bye"
"Bye"

Aku langsung menuju rumahku yang tak jauh dari rumah Beby. Dirumah sudah ada ibuku yang sudah menunggu kedatanganku. Akupun langsung pergi mandi dan makan malam.

Keesokan harinya. Saat jam istirahat sekolah aku hanya duduk melamun di kafetaria sekolah. Semua itu menghilang saat tiba-tiba Beby datang dan membuyarkan semua lamunanku.
"Heh, ko ngelamun aja sih ntar kesambet loh" katanya
"Aduh kamu ngagetin aja sih"
"Hehe maaf deh maaf" jawabnya sambil memohon
"Emang ada apaan sih sampe ngagetin aku"
"Hehe, aku punya kabar baik nih"
"Apaan tuh ?"
"Aku diterima lho jadi menejer tim futsal kita"
"Ooh bagus deh kalo gitu"
"Hehe, eh orang tua aku berterima kasih banget tau soal yang kemaren"
"Yang mana ?"
"Itu tuh yang kamu rela nganterin aku sampe hujan-hujanan. Coba gak ada kamu pasti aku udah sakit gara-gara kehujanan"
"Hehe iya"
"Tapi kamu gapapa kan"
"Iya aku gapapa ko"
"Itu jantung kamu gapapa kan?"
"Gapapa ko Beb"

Setelah itu kami berbincang cukup lama hingga bel masuk berbunyi. Sebenarnya saat kemarin kuantar Beby aku merasakan dadaku sakit. Ya, benar aku memang memiliki penyakit jantung yang sudah cukup lama. Beby pun sudah mengetahuinya. Tapi setiap aku merasakan sakit aku tetap berusaha menutupinya dari Beby.

2 bulan berlalu. Hari ini adalah pertandingan finalku dalam kejuaraan futsal antar SMA tersebut. Lansung saja ku melesat dengan motorku. Padahal akhir-akhir ini aku merasa sepertinya jantungku semakin lemah. Walaupun begitu aku tetap tidak menghiraukannya. Aku tak ingin final ku jadi berantakan tanpaku. Sesampainya di tempat pertandingan sudah ada Guntur dan Beby yang menyambutku.

"Wooy, lama amat sih lu" kata Guntur
"Sorry tadi agak telat bangunnya"
"Eh, ayo cepet masuk pelatih udah nunggu" kata Beby
"Iya Ibu Menejer" kataku sambil meledeknya
"Ih, berhenti nyebut aku dengan nama itu !" katanya marah
"Hahahahahaha" Aku dan Guntur hanya tertawa

Sesampainya didalam sudah ada pelatih dan yang lainnya. Mereka sedang merencanakan formasi untuk hari ini.
"Seperti biasa hari ini kita memainkan formasi 2-1-1" katanya
"Farza didepan David di tengah Handi dan Fajar di belakang" lanjutnya lagi
"Tapi pak saya ingin bermain fulltime" Kataku
"Kau sanggup"
"Iya pak saya akan bermain sebaik mungkin"
"Baiklah kalau begitu David kau duduk manis saja di bench" kta pelatih pada David
"Baik Pak" jawabnya
"Sekarang kalian pemanasan"
"Baik pak !" kata kami

Saat aku sedang melakukan pemanasan Beby tiba-tiba mendekatiku.
"Jim, kamu yakin mau main penuh"
"Iya dong ini kan final" kataku yakin
"Nanti itu kamu gapapa" jawabnya sambil menunjuk dadaku
"Gapapa ko tenang aja" kataku
"Ooh bagus deh kalo gitu aku agak tenang" jawabnya lagi seraya meninggalkanku

Akhirnya pertandingan dimulai. Lawan kami adalah juara bertahan tahun lalu. Mereka cukup kuat dengan srategi terus menekan kami. Sesekali kucoba oper bola pada Farza atau Handi yang terkadang melakukan overlap. Namun semua itu sia-sia pertahanan mereka sangat kokoh dan sulit dihancurkan. Kucoba menendang langsung kearah gawang namun masih terhalang oleh kiper mereka. Pertahanan kami sempat pontang-panting saat serangan datang bertubi-tubi. Namun, untungnya beberapa penyelamatan gemilang dari Guntur membuat semua itu kandas. Hingga akhirnya peluit akhir babak pertama berbunyi. Kedudukan masih sama kuat 0-0.

Saat aku meninggalkan lapangan aku mulai merasakan rasa sakit yang sangat mendalam. Kurasa jantungku semakin lemah berdetak. Semakin tak kuat jantung ini untuk memompa darahku keseluruh tubuh. Pertandingan babak kedua akan segera dimulai hingga Beby mendekatiku.

"Kamu gapapa kan ?"
"Gapapa ko Beb aku masih bisa ngelanjutin"
"Oh, syukur deh kalo gitu"
"Hehe" kataku sambil tersenyum padanya

Saat kami akan memasuki lapangan pelatih membisikiku.
"Kamu masih kuat ?"
"Iya pak"
"Baguslah tetap menekan lawan terus" katanya lagi
"Baik pak !"

Pertandingan akhirnya dimulai. Kami berusaha menguasai jalannya pertandingan. Namun yang terjadi baru 5 menit aku bermain aku mulai merasakan rasa sakit itu lagi, tapi aku tetap berusaha berlari. Sekarang rasa sakitnnya semakin parah aku tak dapat berlari lagi. Aku hampir ambruk disana. Kulihat David akan segera menggantikanku yang sudah tak berdaya ini. Akhirnya David masuk menggantikanku. Baru saja aku keluar dari lapangan tubuhku semakin lemah dan akhirnya aku ambruk disana.

"Jiiiimmmm !!!!!" Beby berteriak kearahku hanya itu yang ku dengar terakhir kali

"Jim baa.....ngunn Jim" Aku mulai mendengar suaranya lagi. Samar-samar aku mulai melihat wajahnya. Semakin lama semakin jelas. Aku juga merasakan kita sedang ada didalam sebuah ambulans.

"Jim akhirnya kamu bangun" katanya sambil memeluk tubuhku yang terbaring lemah
"Beeb, aku mau bilang sesuuatu.. sssaama kammu Beebbb" kataku terbata-bata
"Apa Jim ?"
"Aaaku sayang kamu Bbeeb"
"Iya Jim aku juga sayang kamu" katanya
"Muunggkin ini kkata-kata terakhir aku Beb"
"Kamu ngomong apa sih" katanya. Air matanya mulai berlinang,
"Aku mau untuk terakhir kalinya liat kamu senyum buat aku"

Beby pun menghapus airmatanya dan mencoba tersenyum untukku. Saat itu kulihat senyum termanis darinya. Seketika itu juga malaikat maut sudah menjemputku. Beby yang melihatku sudah tak berdaya hanya bisa menangis diatas jasadku yang sudah tak bernyawa. Air matanya mengalir semakin deras.

"Jiiiiimmmmm !!!!!" itulah kata-kata yang terakhir kali kudengar.