Langsung saja
kuambil tas yang biasa kubawa saat pertandingan. Ya pertandingan Futsal,
aku memang sudah lama menggeluti olahraga ini. Hari ini akan diadakan
pertandingan antar SMA tempat ku sekolah dengan SMA tetangga. Langsung
saja kupacu motor matic ku ketempat pertandingan tersebut. Karena aku
tak mau ketinggalan babak penyisihan kejuaraan antar SMA tingkat kota
ini.
Sesampainya disana sudah ada teman-temanku yang sedang
bersiap. Seperti biasa Guntur teman baikku langsung menyambutku di
parkiran.
"Jim, gimana lu udah siap kan" tanyanya.
"Udah dong siap fisik dan mental" jawabku.
"Siip deh, tapi lawan kita kuat loh tahun kemaren di kejuaraan ini mereka cuma kebobolan 6 gol !" tambahnya.
"Tenang aja kali bro, kan ada gue" kataku menenangkan.
"Gaya amat lu, udah ayo masuk nanti dimarahin pelatih lagi" jawabnya sambil mengajaku masuk ke tempat kita bertanding.
Akupun mengikutinya dari belakang. Memang cocok tempat ini dijadikan
kejuaraan tingkat kota kondisinya memang sangat terawat. Karpetnya
bagus, bench pemain masih mulus, toilet yang bersih, dan masih banyak
keunggulan lainnya. Sesampainya dipinggir lapangan kami bertanding sudah
ada Pak Pelatih. Ia langsung menginstruksikan aku dan Guntur yang baru
datang untuk melakukan pemanasan. Sebelum pertandingan dimulai pelatih
mengumumkan pemain yang akan bermain hari ini. Seperti biasa aku hanya
dibangku cadangkan untuk memanaskan bench. Aku pun bisa mengerti, sudah
biasa aku dicadangkan.
Priiittt...........
Pertandingan
dimulai. Tim ku pun langsung mendapatkan peluang. Kali ini dari kepala
Farza namun sayang sundulan kepala mulusnya hanya bisa membentur tiang
gawang. Serangan pun datang sili berganti membuat pertandingan menjadi
semakin seru. Hingga akhirnya di menit-menit akhir babak pertama tim
lawan berhasil mencetak gol untuk mengubah skor sementara.
"Jim, kamu masuk menggantikan David di babak kedua. Kamu harus bisa mengatur permainan" instruksi pelatih.
"Siap pak !" jawabku penuh tanggung jawab.
"Eh Tur, awas ya kalo kebobolan lagi kamu harus traktir makan kita semua" kata Farza.
"Tenang aja Za, Guntur Adikusumo gak akan kecolongan lagi" jawabnya meyakinkan.
Akhirnya pertandingan dimulai. Dari kejauhan aku mendengar suara wanita
yang sudah tak asing lagi. Segera saja kucari sumber suara itu.
"Jim, semangat ya !! kamu pasti bisa"teriaknya .
Benar saja dialah Beby pemilik suara indah itu. Dia adalah teman
keciku. Wanita yang selama ini aku kagumi. Memang selama ini aku sudah
menyukainya. Namun tak pernah ada dalam benakku untuk mungungkapkan
perasaan ku ini kepadanya. Aku takut jika mengungkapkannya dia akan
menolakku dan menjauh dariku.
Kembali ke pertandingam. Aku yang
bertindak sebagai playmaker berusaha untuk mengatur jalannya permainan.
Saat aku menguasai bola kucoba mencari Handi didepan, ku oper bola
kepadanya. Dengan lihai dia memainkan bola yang ada di kakinya satu
gerakan saja sudah bisa melewati pemain lawan dan akhirnya ditendangnya
bola itu. Namun sayang bolanya hanya membentur tiang gawang. Tapi
pantulannya langsung saja disambar oleh Farza dan akhirnya GOOL !!.
Pertandingan kembali berlanjut, sekarang tim lawan balik menyerang namun
kokohnya benteng pertahanan kami tidak dapat ditembus. Jual beli
serangan pun terjadi. Hingga akhirnya di penghujung babak kedua bola
jatuh di kakiku. Langsung saja kutendang bola itu kearah gawang. Dan
terjadilah GOOL. Kami berhasil mempertahankan kedudukan. Pertandingan
pun berhasil kami menangkan.
Setelah semua selesai akupun sesgera meninggalkan gedung tempat kita bertanding. Terdengar suara Beby dari belakangku.
"Jim !!!"
"Iya Beb"
"Liat niih !" katanya sambil menunjukan secarik kertas.
"Formulir pendaftaran menejer" aku membaca tulisan yang terpampang diatasnya.
"Kamu mau jadi menejer Beb ? Menejer apa ?" kataku lagi
"Ya menejer tim ini lah" jawabnya
"Emang kamu ngerti soal futsal ?" kataku sedikit meledek
"Iyalah kalo gak ngerti ngapain aku mau jadi menejer"
"Haha iya deh iya"
"Eh, aku pulang bareng kamu ya" ajaknya
"Hmm boleh aja sih tapi gapapa pake motor?"
"Nyantai aja kali"
"Okedeh"
Di perjalanan awan sudah semakin hitam. Rintik-rintik gerimis mulai
membasahi jalanan. Sepertinya hujan akan turun. Akupun memilih untuk
meminggirkan motorku.
"Kenapa Jim ko minggir ?"
"Pake ini nih, sebentar lagi hujan" kataku sambil menyodorkan jas hujan.
"Lha terus kamunya ?" katanya penuh tanya
"Udah tenang aja yang penting kamu gak kehujanan"
"Serius nih ?"
"Iya udah tenang aja"
"Hmm oke deh"
Benar saja dugaanku hujan turun begitu derasnya. Membuat badanku basah
kuyup. Tapi, tak apa lah yang terpenting bidadari yang ada dibelakanku
ini bisa tetap kering. Akupun semakin mengencangkan pedal gas motorku.
Beby memegang pinggangku dengan sangat erat. Aku semakin mengencangkan
pedal gas ku. Akhirnya kami sampai di rumah Beby. Aku mengantarnya
sampai depan teras rumahnya.
"Jim, ini jas hujannya. Mau neduh bulu gak?" katanya
"Enggak deh gak usah malu sama orangtua kamu basah kuyup gini. Lain kali aja ya"
"Oh yaudah deh. Eh Jim makasih ya udah mau nganterin aku"
"Iya nyantai aja"
"Aku jadi gak enak"
"Nyantai aja beb kita kan udah kita temenan lama. Eh aku pulang dulu ya tambah deres nih"
"Iya bye"
"Bye"
Aku langsung menuju rumahku yang tak jauh dari rumah Beby. Dirumah
sudah ada ibuku yang sudah menunggu kedatanganku. Akupun langsung pergi
mandi dan makan malam.
Keesokan harinya. Saat jam istirahat
sekolah aku hanya duduk melamun di kafetaria sekolah. Semua itu
menghilang saat tiba-tiba Beby datang dan membuyarkan semua lamunanku.
"Heh, ko ngelamun aja sih ntar kesambet loh" katanya
"Aduh kamu ngagetin aja sih"
"Hehe maaf deh maaf" jawabnya sambil memohon
"Emang ada apaan sih sampe ngagetin aku"
"Hehe, aku punya kabar baik nih"
"Apaan tuh ?"
"Aku diterima lho jadi menejer tim futsal kita"
"Ooh bagus deh kalo gitu"
"Hehe, eh orang tua aku berterima kasih banget tau soal yang kemaren"
"Yang mana ?"
"Itu tuh yang kamu rela nganterin aku sampe hujan-hujanan. Coba gak ada kamu pasti aku udah sakit gara-gara kehujanan"
"Hehe iya"
"Tapi kamu gapapa kan"
"Iya aku gapapa ko"
"Itu jantung kamu gapapa kan?"
"Gapapa ko Beb"
Setelah itu kami berbincang cukup lama hingga bel masuk berbunyi.
Sebenarnya saat kemarin kuantar Beby aku merasakan dadaku sakit. Ya,
benar aku memang memiliki penyakit jantung yang sudah cukup lama. Beby
pun sudah mengetahuinya. Tapi setiap aku merasakan sakit aku tetap
berusaha menutupinya dari Beby.
2 bulan berlalu. Hari ini
adalah pertandingan finalku dalam kejuaraan futsal antar SMA tersebut.
Lansung saja ku melesat dengan motorku. Padahal akhir-akhir ini aku
merasa sepertinya jantungku semakin lemah. Walaupun begitu aku tetap
tidak menghiraukannya. Aku tak ingin final ku jadi berantakan tanpaku.
Sesampainya di tempat pertandingan sudah ada Guntur dan Beby yang
menyambutku.
"Wooy, lama amat sih lu" kata Guntur
"Sorry tadi agak telat bangunnya"
"Eh, ayo cepet masuk pelatih udah nunggu" kata Beby
"Iya Ibu Menejer" kataku sambil meledeknya
"Ih, berhenti nyebut aku dengan nama itu !" katanya marah
"Hahahahahaha" Aku dan Guntur hanya tertawa
Sesampainya didalam sudah ada pelatih dan yang lainnya. Mereka sedang merencanakan formasi untuk hari ini.
"Seperti biasa hari ini kita memainkan formasi 2-1-1" katanya
"Farza didepan David di tengah Handi dan Fajar di belakang" lanjutnya lagi
"Tapi pak saya ingin bermain fulltime" Kataku
"Kau sanggup"
"Iya pak saya akan bermain sebaik mungkin"
"Baiklah kalau begitu David kau duduk manis saja di bench" kta pelatih pada David
"Baik Pak" jawabnya
"Sekarang kalian pemanasan"
"Baik pak !" kata kami
Saat aku sedang melakukan pemanasan Beby tiba-tiba mendekatiku.
"Jim, kamu yakin mau main penuh"
"Iya dong ini kan final" kataku yakin
"Nanti itu kamu gapapa" jawabnya sambil menunjuk dadaku
"Gapapa ko tenang aja" kataku
"Ooh bagus deh kalo gitu aku agak tenang" jawabnya lagi seraya meninggalkanku
Akhirnya pertandingan dimulai. Lawan kami adalah juara bertahan tahun
lalu. Mereka cukup kuat dengan srategi terus menekan kami. Sesekali
kucoba oper bola pada Farza atau Handi yang terkadang melakukan overlap.
Namun semua itu sia-sia pertahanan mereka sangat kokoh dan sulit
dihancurkan. Kucoba menendang langsung kearah gawang namun masih
terhalang oleh kiper mereka. Pertahanan kami sempat pontang-panting saat
serangan datang bertubi-tubi. Namun, untungnya beberapa penyelamatan
gemilang dari Guntur membuat semua itu kandas. Hingga akhirnya peluit
akhir babak pertama berbunyi. Kedudukan masih sama kuat 0-0.
Saat aku meninggalkan lapangan aku mulai merasakan rasa sakit yang
sangat mendalam. Kurasa jantungku semakin lemah berdetak. Semakin tak
kuat jantung ini untuk memompa darahku keseluruh tubuh. Pertandingan
babak kedua akan segera dimulai hingga Beby mendekatiku.
"Kamu gapapa kan ?"
"Gapapa ko Beb aku masih bisa ngelanjutin"
"Oh, syukur deh kalo gitu"
"Hehe" kataku sambil tersenyum padanya
Saat kami akan memasuki lapangan pelatih membisikiku.
"Kamu masih kuat ?"
"Iya pak"
"Baguslah tetap menekan lawan terus" katanya lagi
"Baik pak !"
Pertandingan akhirnya dimulai. Kami berusaha menguasai jalannya
pertandingan. Namun yang terjadi baru 5 menit aku bermain aku mulai
merasakan rasa sakit itu lagi, tapi aku tetap berusaha berlari. Sekarang
rasa sakitnnya semakin parah aku tak dapat berlari lagi. Aku hampir
ambruk disana. Kulihat David akan segera menggantikanku yang sudah tak
berdaya ini. Akhirnya David masuk menggantikanku. Baru saja aku keluar
dari lapangan tubuhku semakin lemah dan akhirnya aku ambruk disana.
"Jiiiimmmm !!!!!" Beby berteriak kearahku hanya itu yang ku dengar terakhir kali
"Jim baa.....ngunn Jim" Aku mulai mendengar suaranya lagi. Samar-samar
aku mulai melihat wajahnya. Semakin lama semakin jelas. Aku juga
merasakan kita sedang ada didalam sebuah ambulans.
"Jim akhirnya kamu bangun" katanya sambil memeluk tubuhku yang terbaring lemah
"Beeb, aku mau bilang sesuuatu.. sssaama kammu Beebbb" kataku terbata-bata
"Apa Jim ?"
"Aaaku sayang kamu Bbeeb"
"Iya Jim aku juga sayang kamu" katanya
"Muunggkin ini kkata-kata terakhir aku Beb"
"Kamu ngomong apa sih" katanya. Air matanya mulai berlinang,
"Aku mau untuk terakhir kalinya liat kamu senyum buat aku"
Beby pun menghapus airmatanya dan mencoba tersenyum untukku. Saat itu
kulihat senyum termanis darinya. Seketika itu juga malaikat maut sudah
menjemputku. Beby yang melihatku sudah tak berdaya hanya bisa menangis
diatas jasadku yang sudah tak bernyawa. Air matanya mengalir semakin
deras.
"Jiiiiimmmmm !!!!!" itulah kata-kata yang terakhir kali kudengar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar